DEMA-U bersama sejumlah mahasiswa di lingkungan UIN Sunan Kalijaga menggelar acara dialog terbuka, di selasar gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga pada selasa (27/05). Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengetahui visi dan misi dari 13 calon rektor yang terdaftar dalam pemilihan calon rektor mendatang. Aksi bertajuk Dialog Terbuka Bersama 13 Calon Rektor “mendobrak kebuntuan Demi UIN SUKA yang unggul” dari awal dibukanya pukul 08:30 WIB hingga berakhirnya pada pukul 11:30 hanya berakhir dengan kekecewaan dari para mahasiswa dengan Absensi dari ke-13 calon rektor.
Ketua
DEMA-U, Thoriqotur ramadhani mengatakan bahwa terdapat banyak intervensi dan
tantangan dalam pelaksanaan acara, sebetulnya pihaknya sudah sejak lama mencoba
melakukan koordinasi kepada 13 calon rektor terkait acara tersebut “undangan
sudah dikirimkan sejak dua minggu yang lalu dan ada calon rektor yang sudah
mengkonfirmasi akan datang”. Dirinya menegaskan bahwa ada interuksi dari rektor
kepada calon rektor agar sengaja untuk tidak hadir pada acara tersebut “dah
gausah datang kegiatan itu gausah dilayani dan sebagainya”.
Dia juga mengatakan bahwa aksi yang diselenggarakan
DEMA-U tersebut dianggap sebagai ajang yang berbau politis dan menyebabkan
rusuh belaka “Gak usah lah kalian itu buat acara ini, kalian itu ngapain sih
berpolitik, politik di kampus, janganlah kalian buat rusuh-rusuh seperti ini”
ungkapnya saat menyampaikan respon dari rektorat, “kemarin pas kami kirimkan
undangan ke beliau, beliau itu sampai gontok-gontokan ke kita, kami itu ya
mohon maaf ya tangan saya itu sampai kena pukul saking marahnya dia” kata Thoriq.
Ada kekhawatiran bahwa respon pihak rektorat terhadap acara pada Selasa (27/05) akan menimbulkan budaya kampus yang tidak sehat dengan matinya ruang diskusi dan dialektika di kampus “kawan-kawan, kampus yang memang kita aggap sebagai ruang akademik, kampus yang kita aggap seperti ruang bertukar diskursus ini, akan mati bakalan hilang, diskursus-diskursus itu, serius saya gak bohong, coba kalian bisa bayangkan betapa nanti kita melihat 4 atau 5 tahun kedepan ketika kampus kita akan terus-terusan begini, akan terus terusan digerus dan dintervensi semua kegiatan kita dianggap politis, diskursus keilmuan yang ada dikampus UIN Sunan Kalijaga ini bakalan hilang, ruang-ruang akademik, diskusi-diskusi yang memang sering dilaksanakan oleh teman-teman LKM dan UKM semua teman-teman yang ada di UIN Sunan Kalijaga Ini bakalan hilang karena dianggap sebagai kegiatan yang politis oleh rektor”.
Thoriq
juga menyampaikan, bahwa pemilihan rektorat sejak 2015 tidak lagi melibatkan
mahasiswa sebagai bagian dari stakeholder melainkan dipilih langsung oleh
menteri agama. Melalui aksi ini ada harapan bahwa prosesi pemilihan rektor yang
akan diselenggarakan kedepannya akan dikembalikan sebelum tahun 2015, agar
membawa angin segar terhadap forum diskusi dan dialektika di kampus UIN Sunan
Kalijaga “Harapan kami besar bahwa proses pemilihan seperti ini dikembalikan
seperti semula, pemilihan seperti ini mulai ditetapkan tahun 2015 langsung
ditunjuk oleh menteri, harapan kami kan nanti mereka yang bakal tau soal
pandangan-pandangan atau isu-isu yang ada di kampus ya tentu stakeholder yang
ada di kampus. Maka perlu dikembalikan semula sebagaimana semestinya, jadi
dipilih langsung oleh kita sebagai representasi dari mahasiswa. Seperti dulu
lagi sebelum tahun 2015”.
Terakhir
Pihaknya juga menerangkan bahwa proses pemilihan rektor yang diselenggarakan
terindikasi memiliki hubungan terhadap kepentingan pihak-pihak tertentu “pada
akhirnya prosesi seperti ini akan menjadi tergantung yang dekat dengan menteri
ya itulah yang akan dipilih”.
Reporter : Gayan Asykar Sahida | Mukhammad Arya Dwi Rahman | Nurul ‘Aini

Miris
BalasHapus