Sabtu, 30 Maret 2024

Stop Diskriminasi Perempuan di Dunia Kampus

  


  Sudah memasuki era modern, dunia tidak lepas dari cepat tersebarnya informasi. Semua dari segala aspek mengalami perubahan baik secara evolusi atau revolusi. Perubahan tersebut tidak lepas juga dengan kemerdekaan perempuan. Dari era jahiliyah sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul sampai era di mana terdapat umat Nabi Muhammad yang jumlahnya banyak ini, perempuan masih dipandang sebelah mata. Dari masa perempuan dikubur hidup-hidup saat masih bayi sampai sekarang masih juga mereka dikubur mentah-mentah mimpinya. Apa semua ini terjadi hanya karena perbedaan gender?.

 Semua hal itu merujuk pada sikap diskriminasi. Diskriminasi yang terjadi hanya karena mengunggulkan budaya patriarki. Diskriminasi sendiri merujuk pada pembedaan perlakuan terhadap sesama. Semua tindak kebodohan itu masih tercermin dilingkungan sekitar kita. Acap kali, kita seakan bodoh juga membiarkan itu terjadi dan menjalankan tindak-tindak seperti demikian. Sebagai mahasiswa, saya masih menjumpai hal-hal yang seharusnya sudah tidak ada konsep rasis dan diskriminasi di dunia akademik. 

 Dunia akademik seperti kampus seharusnya memberi wadah pengembangan pemikiran yang maju, bukan malah terbelenggu pada sikap patriarki yang dibawa dari orang-orang di dalamnya. Nyatanya memang banyak mahasiswa dari kaum pinggiran kota sudah mulai banyak yang memilih untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Namun, mungkin karena masih terbawa budaya patriarki dari tempat asalnya sehingga hal-hal yang membatasi ruang gerak perempuan untuk aktif dibungkam. Atau mungkin malah dari mahasiswa kota yang masih membawa budaya patriarki. Entahlah, saya juga masih belum meneliti lebih lanjut karena saya hanya mendengarkan budaya tersebut masih ada.

  Hal tersebut saya jumpai dari organisasi dalam kampus. Menerapkan suatu konsep yang mana hal tersebut menjurus pada perempuan tidak dapat menjadi calon pemimpin. Apabila tulisan ini ditulis oleh perempuan, mungkin bisa jadi perempuan yang menulis hal demikian dipersepsikan dengan sebutan gila hormat, gila kuasa, dan gila segalanya. Pemikiran demikian seharusnya sudah tidak ada dalam benak mahasiswa. Membiarkan potensi perempuan untuk diredupkan dengan ego dan budaya yang memang nyatanya salah. 

 Lihatlah lebih dalam, pemikiran yang kita konstruksi yang melekat pada perempuan juga dimiliki laki-laki. Bisa jadi konstruksi yang dibangun dalam memandang perempuan adalah akibat dari pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh laki-laki atau bahkan dari perempuan-perempuan lainnya. Ketika hal ini terus dibiarkan, konsekuensi kedepannya adalah apabila kita memiliki sosok terdekat kita, misal seperti adik perempuan, maka hal tersebut masih tetap ada ke generasi adik perempuan kita. Siapa lagi kalau bukan kita untuk menumpas sikap dan budaya tersebut di kampus?.

Penulis: Muhammad Aufal Haq

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengoreksi Tata Kelola, Bukan Membatalkan Manfaat: Catatan untuk Gerakan Mahasiswa 2026

Gelombang demonstrasi mahasiswa yang melanda Jakarta dan berbagai kota sejak pertengahan Juni 2026 membawa pesan yang jelas: rakyat resah, d...