Minggu, 24 Mei 2026

Republik Berisik Vol II: Mengembalikan Akal Sehat dalam Berinvestasi

Dalam kehidupan modern saat ini, investasi semakin populer di masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Salah satu bentuk investasi yang banyak diminati adalah pasar modal, yaitu tempat terjadinya jual beli saham dan instrumen keuangan lainnya. Pasar modal sudah ada sejak zaman VOC, ketika saham mulai diperjualbelikan kepada masyarakat. Dalam pasar modal, harga saham selalu berubah-ubah. Kadang naik, kadang turun, bahkan bisa mengalami perubahan drastis. Untuk melihat kondisi pasar saham secara umum di Indonesia, digunakan indikator yang disebut IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). IHSG menggambarkan pergerakan harga saham secara keseluruhan di Bursa Efek Indonesia. Ketika IHSG naik, berarti sebagian besar harga saham naik. Sebaliknya, ketika IHSG turun, berarti banyak saham mengalami penurunan harga.

Dalam pasar modal, harga saham tidak selalu stabil. Kadang mengalami kenaikan drastis, kadang mengalami penurunan drastis, dan terkadang juga bergerak secara normal. Penyebab utama dari perubahan harga tersebut adalah supply and demand atau permintaan dan penawaran. Adapun konsep supply and demand yaitu jika permintaan lebih besar daripada penawaran, maka harga akan naik, sebaliknya, jika penawaran lebih besar daripada permintaan, maka harga akan turun.

Naik dan turunnya harga saham sering memunculkan emosi dalam diri investor. Dua emosi terbesar dalam pasar modal adalah greed dan fear. Greed merupakan keinginan mendapatkan keuntungan besar dalam waktu cepat. Emosi ini biasanya muncul ketika harga saham terus naik. Akibat dari greed salah satunya muncul perilaku FOMO (fear of missing out). Sedangkan Fear adalah rasa takut ketika harga saham turun atau saat pasar mengalami ketidakpastian. Akibat dari fear salah satunya adalah mudah panik, Karena itu, banyak investor membeli saat harga tinggi karena serakah, lalu menjual saat harga turun karena takut.

Adanya rasa serakah dan takut dalam pasar modal menimbulkan perbedaan sikap dan tindakan dalam berinvestasi. Adapun perbedaannya adalah Investor rasional mengambil keputusan berdasarkan analisis dan data. Investor rasional juga berorientasi pada investasi jangka panjang. Ketika menghadapi fluktuasi pasar, investor rasional tetap tenang ketika harga turun dan melakukan evaluasi. Selain itu, investor rasional memiliki tujuan dan strategi investasi yang jelas.

Sebaliknya, investor emosional mengambil keputusan karena FOMO dan ikut-ikutan. Investor emosional ingin mendapatkan keuntungan cepat atau kepuasan instan. Ketika menghadapi fluktuasi pasar, investor emosional mudah panik dan mengambil keputusan impulsif. Investor emosional juga hanya fokus pada keuntungan cepat tanpa perencanaan matang.

Dari perbedaan tersebut, dapat dipahami bahwa investor perlu memiliki cara berpikir yang rasional agar tidak mudah terbawa emosi pasar, diantaranya yaitu:

  1. Memiliki Investment Philosophy, Investor perlu memiliki prinsip atau filosofi investasi agar tidak mudah berubah karena tren pasar dengan memilih investasi berdasarkan analisis pribadi.
  2. Membedakan Investasi dan Trading. Investasi berorientasi jangka panjang dan fokus pada pertumbuhan nilai aset. Sedangkan trading jual beli dalam jangka pendek untuk mencari keuntungan dari perubahan harga. Banyak orang menganggap dirinya berinvestasi, padahal sebenarnya hanya mengejar keuntungan cepat seperti trading tanpa memahami risiko.
  3. Manajemen Risiko dan Diversifikasi. Manajemen Risiko yaitu cara mengendalikan kemungkinan kerugian dalam investasi. Diversifikasi yaitu membagi dana ke beberapa jenis aset agar resiko tidak terpusat pada satu tempat. Sebagai contoh, sebagian di saham, sebagian di emas, sebagian di tabungan atau reksa dana. Tujuannya agar ketika satu aset turun, seluruh keuangan tidak langsung terdampak besar. Karena itu muncul prinsip “Jangan menginvestasikan semua uang ke satu saham.”
  4. Melakukan Journaling, dengan artian mencatat semua proses dan alasan dalam mengambil keputusan investasi dengan tujuan agar investor lebih selektif dalam memilih saham.
  5. Memahami Circle of Competence bahwa investor sebaiknya berinvestasi pada hal yang benar-benar dipahami. Jangan membeli saham hanya karena viral. Maka, semakin memahami aset yang dibeli, semakin kecil kemungkinan mengambil keputusan emosional. Oleh karena itu, muncul prinsip penting dalam investasi, “Buy what you know and know what you buy.
  6. Mengendalikan Input Informasi. Tidak semua informasi investasi di media sosial benar dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, investor perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dengan baik.

Berbagai cara untuk membangun rasionalitas dalam investasi pada akhirnya bertujuan agar investor lebih memahami dirinya sendiri sebelum mengambil keputusan investasi. Oleh karena itu, rasionalitas dalam investasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menganalisis pasar, tetapi juga kemampuan memahami kesiapan diri sendiri sebagai investor. Dari sinilah muncul beberapa pertanyaan reflektif sebelum berinvestasi:

Apakah saya memahami aset yang saya beli?

Apakah harga saham saat ini masuk akal?

Apakah saya siap menghadapi risiko investasi?

KESIMPULAN

Dalam berinvestasi, seseorang tidak hanya mempelajari bagaimana cara mengelola keuangan, tetapi juga bagaimana cara mengontrol emosi dalam mengambil keputusan. Hal ini karena pasar modal selalu dipenuhi oleh perubahan harga yang dapat memengaruhi psikologis investor. Oleh karena itu, jika ingin sukses dalam berinvestasi, maka gunakanlah rasionalitas dalam mengambil keputusan, bukan hanya mengikuti emosi dan tren pasar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengoreksi Tata Kelola, Bukan Membatalkan Manfaat: Catatan untuk Gerakan Mahasiswa 2026

Gelombang demonstrasi mahasiswa yang melanda Jakarta dan berbagai kota sejak pertengahan Juni 2026 membawa pesan yang jelas: rakyat resah, d...