Mulai dari kriminalisasi aktivis di Pati, di mana suara warga yang menuntut keadilan justru dibalas dengan pasal-pasal hukum. Lalu gelombang demonstrasi Agustus yang menunjukkan bahwa ruang publik masih menjadi tempat paling jujur bagi rakyat untuk bicara, meski sering kali dibalas dengan represi. Kita juga menyaksikan bagaimana kekerasan tidak hanya hadir di jalanan, tetapi juga merayap ke ruang-ruang yang seharusnya aman bahkan ke sekolah, seperti kasus kekerasan aparat terhadap pelajar SMP di Maluku.
Di sisi lain, ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat lahirnya nalar kritis dan etika, justru ikut tercoreng. Kasus kekerasan seksual berbasis digital di kampus ternama memperlihatkan bahwa intelektualitas tidak selalu berjalan beriringan dengan moralitas. Kita seperti diingatkan bahwa gelar dan kecerdasan tidak otomatis melahirkan empati.
Belum lagi isu penyiraman air keras terhadap aktivis seperti Andrie Yunus yang kembali membuka luka lama tentang bagaimana suara kritis sering dibayar mahal dengan rasa takut, bahkan dengan tubuh sendiri.
Di waktu yang sama, kita juga dihadapkan pada persoalan yang lebih “sunyi” tapi dampaknya panjang: krisis ekologis dan sosial yang terus membesar, ketimpangan yang tak kunjung selesai, serta kebijakan-kebijakan yang sering kali terasa jauh dari kehidupan masyarakat kecil. Program-program yang katanya pro-rakyat, seperti MBG, pun tidak lepas dari perdebatan: apakah ini solusi nyata, atau sekadar tambalan dari masalah yang lebih dalam?
Lalu ada juga isu feodalisme di pesantren, yang menunjukkan bahwa relasi kuasa bisa tumbuh di mana saja, bahkan di ruang yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai moral dan keadilan. Dan kini, kita dihadapkan lagi pada fenomena yang mungkin terlihat “sepele”, tapi sebenarnya serius: siswa yang tidak lagi menghargai gurunya. Ini bukan sekadar soal etika individu, tapi tanda bahwa ada yang bergeser dalam cara kita memandang nilai, pendidikan, dan rasa hormat.
Jika semua ini kita rangkai, pertanyaannya bukan lagi “apa yang terjadi?”, tapi “apa yang sebenarnya sedang kita alami sebagai bangsa?”
Jawabannya mungkin tidak sederhana, tapi ada satu benang merah: kita sedang mengalami krisis bukan hanya krisis hukum, bukan hanya krisis ekonomi, tapi krisis kepercayaan dan krisis nilai.
Negara, dalam banyak kasus, terlihat lebih cepat merespons dengan kekuasaan daripada dengan dialog. Hukum kadang terasa tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Sementara di level masyarakat, kita juga tidak sepenuhnya bisa lepas dari tanggung jawab. Budaya permisif terhadap kekerasan, rendahnya empati, hingga mudahnya kita menghakimi tanpa memahami, semua itu ikut memperkeruh keadaan.
Kita sering terlalu sibuk menunjuk pemerintah salah, aparat salah, mahasiswa salah, generasi muda salah tapi jarang bertanya: “di posisi saya sebagai warga negara, apa yang sudah saya lakukan?”.
Refleksi ini penting, karena bangsa tidak hanya dibentuk oleh negara, tetapi juga oleh warganya. Demokrasi tidak hanya hidup di gedung parlemen, tetapi juga di cara kita berbicara, berdiskusi, dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin kita perlu jujur mengakui: kita semua, dalam kadar tertentu, ikut menjadi bagian dari masalah. Ketika kita diam melihat ketidakadilan, ketika kita menormalisasi kekerasan sebagai “hal biasa”, ketika kita lebih memilih nyaman daripada peduli di situlah perlahan kita kehilangan arah sebagai bangsa.
Tapi di sisi lain, semua ini juga bisa menjadi harapan.
DI TITIK INILAH, AJAKAN ITU MENJADI PENTING !!!.
Wahai jiwa yang terluka tapi belum menyerah, kita tidak bisa lagi berdiri di pinggir, menonton negeri ini berjalan tanpa arah sambil berharap semuanya akan baik-baik saja. Terlalu banyak luka yang sudah kita lihat, terlalu banyak ketidakadilan yang kita dengar, dan terlalu sering kita memilih diam seolah itu bukan urusan kita. Padahal, setiap diam kita adalah ruang bagi ketidakadilan untuk tumbuh. Setiap pembiaran adalah bentuk persetujuan yang tidak kita sadari. Maka hari ini, kita harus jujur pada diri sendiri: kita mau terus menjadi penonton, atau mulai menjadi bagian dari perubahan?
Perubahan tidak menunggu kita siap, tapi menunggu kita berani. Tidak harus dimulai dari hal besar, tapi dari keberanian kecil yang terus diulang, berani bersuara, berani peduli, berani berdiri di sisi yang benar meski sendirian. Dari ruang-ruang kecil, dari percakapan sederhana, dari solidaritas yang kita bangun pelan-pelan di situlah gerakan lahir. Jangan pernah meremehkan kekuatan kebersamaan, karena satu suara bisa diabaikan, tapi ribuan suara akan mengguncang. Satu langkah mungkin terasa ringan, tapi jika kita berjalan bersama, ia akan menjadi arah baru bagi negeri ini.
Maka dari itu, wahai jiwa yang terluka tapi belum menyerah, mari kita ubah kegelisahan ini menjadi energi, kemarahan ini menjadi gerakan, dan harapan ini menjadi alasan untuk terus melangkah. Jangan tunggu momentum besar, karena momentum itu kita ciptakan sendiri. Jangan tunggu perubahan datang, karena perubahan itu kita yang hidupkan
Kita yang terluka tapi belum menyerah, saatnya kita bangkit, bersatu, dan bergerak.
Bukan dengan kebencian, tapi dengan kesadaran.
Bukan dengan kekerasan, tapi dengan keberanian.
Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan negeri ini.
Dan sejarah akan mencatat, apakah kita menjawabnya atau memilih untuk tetap diam.
PENULIS: BAGUS DIKHA SABRILLANO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar